Tentang Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri

 

Stasiun Pemantau Atmosfer Global (GAW) Lore Lindu Bariri merupakan bagian integral dari jaringan observasi BMKG yang bertugas memantau kondisi atmosfer secara mendalam. Sesuai dengan Perban BMKG Nomor 8 Tahun 2020, stasiun ini berperan penting dalam pengamatan, pengumpulan, pengolahan, analisis, dan penyebaran data terkait komposisi kimia atmosfer, gas-gas rumah kaca, serta parameter fisis atmosfer.

Terletak strategis di kawasan pegunungan Sulawesi Tengah, Stasiun GAW Lore Lindu Bariri mendukung upaya nasional dan global dalam menghadapi perubahan iklim, menjaga kualitas udara, dan memahami dinamika atmosfer untuk keberlanjutan lingkungan. Dengan perangkat pemantauan canggih dan tim teknis profesional, kami berkomitmen menyajikan data yang akurat dan terpercaya untuk ilmu pengetahuan dan kebijakan lingkungan.

Mengenal Program Global Atmospheric Watch (GAW) 
Sejarah pemantauan atmosfer global atau Global Atmosphere Watch bermula pada tahun 1950 ketika World Meteorological Organization (WMO) menginisiasi program pengamatan komposisi kimia atmosfer dan aspek meteorologi terkait polusi udara. Inisiatif ini berkembang melalui pembentukan Global Ozone Observing System (GO3OS) pada tahun 1957 dan Background Air Pollution Monitoring Network (BAPMoN) pada tahun 1960-an untuk memantau polusi udara dan gas rumah kaca. Pada tahun 1989, kedua program tersebut dikonsolidasikan menjadi program Global Atmosphere Watch (GAW) guna meningkatkan kerja sama internasional dalam pengamatan Gas Rumah Kaca (GRK) dan peringatan dini terhadap perubahan atmosfer bumi. Saat ini, program GAW menjadi tulang punggung penyediaan data atmosfer yang mengikat seluruh negara anggota WMO.

Jejak Awal Stasiun GAW di Indonesia
Stasiun GAW Bukit Kototabang merupakan respons terhadap rekomendasi pertemuan internasional para Peneliti GAW tahun 1991, Indonesia mengambil peran strategis. Pada tahun 1996, Badan Meteorologi dan Geofisika (sekarang BMKG) mendirikan stasiun GAW pertama di Indonesia, yaitu Stasiun GAW Bukit Kototabang di Sumatera Barat. Stasiun ini menjadi salah satu referensi udara bersih dunia kawasan tropis ekuatorial yang sangat vital bagi pemantauan iklim global. Keberadaan stasiun ini menempatkan Indonesia dalam peta pengamatan atmosfer global bersama negara-negara lain Tropis seperti Kenya dan Brazil.

Perluasan Jangkauan ke Jantung Sulawesi dan Ujung Timur Indonesia
Seiring dengan meningkatnya urgensi data iklim yang komprehensif, BMKG memperluas jangkauan pemantauan atmosfernya ke wilayah Indonesia bagian tengah dan timur. Inisiasi pembangunan stasiun baru dimulai sejak tahun 2011-2012. Upaya ini mendapatkan legitimasi formal melalui Peraturan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Nomor 10 Tahun 2016 yang ditetapkan di Jakarta pada tanggal 4 November 2016. Peraturan ini secara resmi mengukuhkan kelahiran dua stasiun baru: Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, dan Stasiun Pemantau Atmosfer Global Puncak Vihara Klademak di Kota Sorong, Papua Barat.

Secara spesifik, Stasiun GAW Lore Lindu Bariri memiliki karakteristik topografi yang unik dan sangat ideal untuk pemantauan latar belakang atmosfer (background atmosphere). Lokasi taman alat (shelter) stasiun ini terpisah dari kantor administrasinya di Kota Palu, berjarak sekitar 130 km ke arah selatan, tepatnya di Desa Hangira, Kecamatan Lore Tengah, Kabupaten Poso. Shelter observasi seluas 2.500 m² ini berdiri tegak di ketinggian 1.370 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Pemilihan lokasi ini sangat strategis karena berada di dalam kawasan khusus hutan lindung Taman Nasional Lore Lindu. Kondisi lingkungan di sekitar stasiun sangat mendukung data yang murni; dalam radius 5 km, stasiun dikelilingi oleh vegetasi berupa padang rumput (savana), sementara dalam radius 10 km didominasi oleh hutan tropis yang lebat. Isolasi dari aktivitas antropogenik (manusia) ini menjadikan Lore Lindu referensi penting untuk pengamatan udara bersih di ekuator.

Dari sisi klimatologis, stasiun ini memiliki pola curah hujan ekuatorial dengan dua puncak hujan yang terjadi pada bulan April dan November. Suhu udara di kawasan ini cukup sejuk, bervariasi antara 15°C hingga 28°C dengan kelembapan relatif rata-rata yang tinggi mencapai 85%. Karakteristik lingkungan fisik dan iklim inilah yang menempatkan GAW Lore Lindu Bariri sebagai salah satu titik pengamatan vital di daerah tropis yang datanya sangat terbatas di tingkat global.

Perkembangan infrastruktur sejak beroperasi penuh, stasiun GAW Lore Lindu baru terus melengkapi sarana dan prasarana pengamatan untuk memenuhi standar WMO, termasuk pengukuran aerosol dan gas rumah kaca. Saat ini, stasiun ini sedang dalam proses pengakuan (recognition) menjadi salah satu stasiun GAW Regional dalam jaringan WMO-GAW Global.

Sumber:
1.    Buletin Atmosfer Bumi Cenderawasih (Edisi I, Juli 2018) 
2.    Artikel Berita: Dua Stasiun Pemantau Atmosfer BMKG Beroperasi Penuh 2016 www.wartakota.tribunnews.com/2015/08/18/dua-stasiun-pemantau-atmosfer-bmkg-beroperasi-penuh-2016
3.    Artikel Berita: Memantau Kesehatan Udara Dunia dari Stasiun GAW Bukittinggi https://mediaindonesia.com/nusantara/245867/memantau-kesehatan-udara-dunia-dari-stasiun-gaw-bukittinggi 
4.    Peraturan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Nomor 10 Tahun 2016 Regulasi yang menetapkan perubahan organisasi dan tata kerja, serta mengukuhkan lokasi Stasiun GAW Lore Lindu Bariri dan GAW Sorong.
5.    Keputusan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Nomor: KEP.9a/UM/KB/I/2018 Dokumen tentang penunjukan koordinator stasiun kerjasama pengamatan klimatologi.