WhatsApp Image 2026 06 13 at 16.51.23

 Sumber Foto : Rindang.id

SIGI – Kawasan Pasigala yang meliputi Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Donggala menghadapi tantangan kebencanaan yang semakin kompleks. Selain berada di kawasan aktif Sesar Palu-Koro yang berpotensi memicu gempa bumi besar, wilayah ini juga menghadapi ancaman perubahan iklim yang diperkirakan akan meningkatkan frekuensi serta dampak bencana hidrometeorologi di masa mendatang.

Persoalan tersebut menjadi fokus dalam dialog kebencanaan yang mempertemukan unsur pemerintah, lembaga teknis, organisasi masyarakat sipil, akademisi, dan jurnalis di Kabupaten Sigi. Kegiatan yang diinisiasi oleh Yayasan Sheep Indonesia (YSI) dengan menggandeng media lingkungan Rindang.id itu bertujuan memperkuat peran media dalam menyampaikan informasi kebencanaan dan perubahan iklim secara akurat, berbasis data, serta mudah dipahami masyarakat.

Dalam forum tersebut, Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri, Asep Firman Ilahi, memaparkan bahwa risiko bencana di kawasan Pasigala tidak hanya dipengaruhi faktor geologi, tetapi juga semakin diperumit oleh perubahan iklim global. Menurutnya, dalam beberapa dekade ke depan, wilayah ini berpotensi mengalami peningkatan kejadian cuaca ekstrem, banjir, longsor, kekeringan, hingga ancaman terhadap ketahanan pangan dan sumber daya air.

 

WhatsApp Image 2026 06 13 at 16.51.19

 

Berdasarkan data yang dipaparkan, sekitar satu juta penduduk bermukim di kawasan Pasigala. Sementara di wilayah Lembah Palu, lebih dari setengah juta jiwa tinggal pada zona dengan tingkat risiko bencana yang tergolong tinggi. Kondisi tersebut menuntut penguatan upaya mitigasi dan adaptasi yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

Kerentanan kawasan ini diperkuat oleh sejumlah faktor alam. Sesar Palu-Koro yang melintasi wilayah padat penduduk menjadi sumber ancaman gempa bumi yang signifikan. Di sisi lain, bentuk Teluk Palu yang menyerupai corong dapat memperbesar dampak gelombang tsunami. Karakteristik tanah berupa endapan aluvial muda di sejumlah kawasan juga meningkatkan potensi terjadinya likuefaksi saat gempa besar terjadi.

Selain ancaman geologi, para peserta dialog menyoroti pentingnya melihat risiko bencana dari perspektif bentang alam secara utuh. Kondisi kawasan hulu, daerah aliran sungai, wilayah perkotaan, hingga pesisir memiliki keterkaitan yang erat. Kerusakan lingkungan atau tata kelola ruang yang kurang tepat di satu kawasan dapat meningkatkan kerentanan wilayah lain dalam satu ekosistem yang sama.

 

WhatsApp Image 2026 06 13 at 16.51.18

 

Kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Palu dan bentang pesisir Donggala–Palu disebut sebagai wilayah strategis yang perlu mendapat perhatian khusus dalam upaya pengurangan risiko bencana. Pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dipandang menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi dampak bencana yang semakin kompleks akibat kombinasi faktor alam dan perubahan iklim.

Meski berbagai kebijakan terkait pengurangan risiko bencana dan adaptasi perubahan iklim telah tersedia, implementasinya dinilai masih memerlukan penguatan. Karena itu, sinergi antara pemerintah, masyarakat sipil, media, dunia usaha, dan masyarakat menjadi faktor penting agar berbagai kebijakan dapat berjalan efektif di lapangan.

Melalui kegiatan tersebut, Yayasan Sheep Indonesia dan Rindang.id berharap media dapat mengambil peran lebih besar dalam membangun literasi kebencanaan, mengawal kebijakan publik, serta menyebarluaskan informasi yang mendorong masyarakat lebih siap menghadapi berbagai ancaman bencana.

Para peserta dialog pun sepakat bahwa tantangan yang dihadapi Pasigala tidak dapat diselesaikan secara sektoral. Diperlukan kolaborasi lintas pihak dan pendekatan yang terintegrasi agar kawasan ini mampu meningkatkan ketahanan masyarakat sekaligus mengurangi risiko bencana di tengah perubahan iklim yang terus berlangsung.