Selama bulan Januari 2026, kondisi curah hujan dan jumlah hari hujan di wilayah Sulawesi Tengah menunjukkan variasi spasial yang cukup besar berdasarkan data dari seluruh stasiun pengamatan. Beberapa wilayah mengalami peningkatan curah hujan yang signifikan, sementara sebagian lainnya masih relatif kering dengan frekuensi hujan yang rendah.

Stasiun yang mencatat curah hujan tertinggi pada Januari 2026 adalah Liang (Kabupaten Banggai Kepulauan) dengan akumulasi curah hujan sebesar 883 mm.  Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, serta gangguan terhadap aktivitas masyarakat, khususnya di wilayah dengan topografi berbukit dan sistem drainase yang terbatas.

Sebaliknya, curah hujan tercatat di Baruga/Lamala (Kabupaten Banggai) dengan total hanya 2.5 mm dan 1 hari hujan saja. Wilayah-wilayah tersebut cenderung mengalami kondisi relatif kering sehingga perlu diwaspadai dampaknya terhadap ketersediaan air.

Dari sisi frekuensi, jumlah hari hujan terbanyak tercatat di Karya Mukti (Kabupaten Donggala) dan Umpanga(Morowali) sebanyak 16 hari hujan. Frekuensi hujan yang tinggi berpotensi meningkatkan kelembapan tanah dan memengaruhi aktivitas pertanian serta risiko genangan di daerah dataran rendah.

Sementara itu, jumlah hari hujan paling sedikit tercatat di Baruga, Palasa, dan Pembuni dengan hanya 1 hari hujan selama Januari 2026. Kondisi ini mencerminkan minimnya kejadian hujan di wilayah tersebut, sejalan dengan rendahnya curah hujan bulanan yang tercatat.

Perbedaan distribusi curah hujan dan frekuensi hari hujan di Sulawesi Tengah ini mencerminkan adanya variasi iklim lokal yang dipengaruhi oleh faktor topografi, kedekatan dengan pantai, tutupan vegetasi, serta dinamika atmosfer regional. Informasi tersebut sangat penting untuk mendukung pengambilan keputusan di sektor pertanian, pengelolaan sumber daya air, serta mitigasi risiko bencana hidrometeorologi.

Pemantauan rutin terhadap parameter iklim seperti curah hujan dan hari hujan menjadi langkah strategis untuk memahami pola variabilitas iklim yang terjadi serta sebagai upaya adaptasi terhadap potensi kondisi iklim ekstrem yang semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir.