
Selama bulan Februari 2026, kondisi curah hujan dan jumlah hari hujan di wilayah Sulawesi Tengah menunjukkan variasi spasial yang cukup besar berdasarkan data dari seluruh pos hujan pengamatan. Beberapa wilayah mengalami curah hujan yang sangat tinggi, sementara sebagian wilayah lainnya relatif lebih kering dengan frekuensi hujan yang lebih rendah.
Pos hujan yang mencatat curah hujan tertinggi pada Februari 2026 adalah Liang (Kabupaten Banggai Kepulauan) dengan akumulasi curah hujan sebesar 1326 mm. Curah hujan yang sangat tinggi tersebut berpotensi meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, serta gangguan terhadap aktivitas masyarakat, khususnya di wilayah dengan topografi berbukit dan sistem drainase yang terbatas.
Sebaliknya, curah hujan terendah tercatat di Toribulu (Kabupaten Parigi Moutong) dengan total curah hujan hanya 6,5 mm yang terjadi dalam 2 hari hujan. Kondisi ini menunjukkan bahwa wilayah tersebut relatif kering selama Februari 2026 sehingga perlu diwaspadai dampaknya terhadap ketersediaan air dan aktivitas pertanian.
Dari sisi frekuensi, jumlah hari hujan terbanyak tercatat di Mori Atas (Kabupaten Morowali Utara) sebanyak 21 hari hujan selama Februari 2026. Frekuensi hujan yang tinggi berpotensi meningkatkan kelembapan tanah serta memengaruhi aktivitas pertanian maupun risiko genangan di wilayah dataran rendah.
Sementara itu, jumlah hari hujan paling sedikit tercatat di Pembuni (Kabupaten Parigi Moutong) dengan hanya 1 hari hujan selama Februari 2026 dengan total curah hujan sebesar 15 mm.
Perbedaan distribusi curah hujan dan frekuensi hari hujan di Sulawesi Tengah ini mencerminkan adanya variasi iklim lokal yang dipengaruhi oleh faktor topografi, kedekatan dengan wilayah laut, tutupan vegetasi, serta dinamika atmosfer regional. Informasi ini penting untuk mendukung pengambilan keputusan di sektor pertanian, pengelolaan sumber daya air, serta mitigasi risiko bencana hidrometeorologi.
Pemantauan rutin terhadap parameter iklim seperti curah hujan dan hari hujan menjadi langkah strategis untuk memahami pola variabilitas iklim yang terjadi serta sebagai upaya adaptasi terhadap potensi kondisi iklim ekstrem yang semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir.