Apakah kalian pernah merasa cuaca belakangan ini semakin sulit ditebak? Hal tersebut juga menjadi permasalahan di kancah global. Data terbaru menunjukkan bahwa 11 tahun terakhir adalah periode terpanas yang pernah tercatat dalam sejarah manusia, dengan tahun 2025 masuk dalam tiga besar tahun terpanas. Fakta ini bukan sekadar angka statistik, melainkan sinyal merah bagi sistem iklim global kita.

Di tengah situasi genting ini, mata dunia tertuju pada pertemuan tahunan World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos. Sekretaris Jenderal World Meteorological Organization (WMO), Celeste Saulo, membawa pesan yang sangat mendesak kepada para pemimpin dunia: kita harus menyelamatkan "tulang punggung" prakiraan cuaca global sebelum terlambat.

"Tulang Punggung" yang Tak Terlihat

Bayangkan sebuah jaringan saraf raksasa yang tidak terlihat. Setiap kali kita mengecek aplikasi cuaca di ponsel, setiap keputusan maskapai penerbangan untuk lepas landas, hingga strategi petani menentukan masa tanam, semuanya bergantung pada satu hal, yaitu sistem pengamatan dan pertukaran data global. Celeste Saulo menyebutkan bahwa setiap model risiko dan keputusan ekonomi bergantung pada standar pertukaran hasil pengamatan, data, dan standar operasional yang dilakukan antarnegara secara terkoordinasi, melampaui batasan politik maupun pasar perjanjian.

Namun, sistem yang telah menopang dunia selama 75 tahun ini sedang berada di bawah tekanan hebat. Infrastruktur pengamatan cuaca di banyak negara mulai menua, dan celah data antarnegara semakin melebar justru di saat kita paling membutuhkannya. Untuk mengatasi ini, WMO meluncurkan inisiatif "WMO Commons", sebuah skema pendanaan baru untuk menjaga agar aliran data vital ini tidak terputus.

Ancaman Nyata dan Kecerdasan Buatan

Laporan Risiko Global WEF menempatkan cuaca ekstrem, hilangnya keanekaragaman hayati, dan perubahan kritis pada sistem Bumi sebagai tiga risiko jangka panjang teratas yang dihadapi manusia. Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, bahkan menyebut situasi ini sebagai "paradoks era kita": di saat kita sangat butuh kerja sama internasional untuk melawan krisis iklim, dunia justru tampak enggan bersatu.

Namun, ada secercah harapan. Di Davos, pembahasan juga berfokus pada pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. AI kini mulai mengubah cara kita membuat keputusan, menawarkan inovasi dalam prakiraan cuaca yang lebih akurat dan sistem peringatan dini yang lebih cepat.

BMKG dan SPAG Lore Lindu Bariri: Jembatan Indonesia ke Dunia

Lantas, di mana posisi Indonesia dalam isu global ini?

Sebagai negara kepulauan yang berada di garis depan krisis iklim, Indonesia tidak bisa hanya menjadi penonton. Di sinilah peran krusial BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika). BMKG bukan sekadar penyedia ramalan cuaca harian, melainkan merupakan "simpul" utama yang menghubungkan masyarakat Indonesia dengan sistem saraf global WMO.

BMKG bertindak sebagai penghubung (liaison) yang menerjemahkan standar global WMO ke dalam konteks lokal. Ketika WMO menekankan pentingnya sistem peringatan dini berbasis AI untuk banjir atau panas ekstrem, BMKG lah yang mengimplementasikan teknologi tersebut untuk melindungi masyarakat dari Sabang sampai Merauke.

Lebih jauh lagi, Stasiun Pemantau Atmosfer atau GAW memiliki peran strategis yang tak tergantikan. Dalam inisiatif "WMO Commons", data adalah mata uang yang paling berharga. Data kualitas udara dan atmosfer yang direkam dengan teliti di Palu bukan hanya untuk konsumsi lokal, tetapi dikirimkan ke pusat data dunia untuk melengkapi puzzle pemahaman iklim global. Tanpa data dari wilayah tropis seperti Indonesia, model prakiraan cuaca dunia akan "buta" sebagian.

Menutup Celah dengan Semangat Dialog

Tema pertemuan WEF kali ini adalah "A Spirit of Dialogue". Ini adalah pengingat bahwa perubahan iklim adalah "pengganda risiko" yang bisa memicu ketegangan atas air dan pangan. Oleh karena itu, investasi pada infrastruktur cuaca bukan hanya soal sains, tapi soal menjaga keamanan dan ekonomi negara.

Bagi kita di Indonesia, pesan dari Davos ini jelas: memperkuat infrastruktur pengamatan cuaca, termasuk mendukung keberlanjutan operasional stasiun seperti SPAG Lore Lindu Bariri adalah investasi untuk masa depan. Kita berbagi atmosfer yang sama, dan melalui BMKG yang terhubung kuat dengan WMO, kita memastikan bahwa suara dan data dari Indonesia turut menentukan arah kebijakan iklim dunia.

Referensi:

1. World Meteorological Organization (WMO). (2026, January 20). "WMO at Davos: Invest in weather and climate intelligence and infrastructure." WMO News.

2. World Economic Forum. (2026). "Global Risks Report 2026." (Sebagaimana dikutip dalam rilis WMO).