
Hujan es sering dianggap sebagai fenomena yang hanya terjadi di negara bersuhu dingin. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat Indonesia cukup sering dikejutkan oleh kejadian hujan es batu, terutama di wilayah Jawa, Sumatra, dan Sulawesi. Lalu, bagaimana mungkin hujan es terjadi di negara tropis seperti Indonesia yang dikenal panas?
Apa Itu Hujan Es?
Hujan es adalah presipitasi berupa butiran es keras yang jatuh dari awan ke permukaan bumi. Hujan ini berasal dari awan Cumulonimbus (Cb), yaitu awan hujan yang menjulang tinggi dan biasanya juga menghasilkan hujan lebat, angin kencang, serta petir.
Mekanisme Terjadinya Hujan Es
Proses terbentuknya hujan es sebenarnya terjadi di dalam awan, bukan di dekat permukaan bumi. Berikut tahapan sederhananya:
-
Pertumbuhan awan sangat tinggi
Di Indonesia, pemanasan matahari yang kuat menyebabkan udara naik secara intens. Akibatnya, awan Cumulonimbus dapat tumbuh hingga ketinggian 15–18 km, mencapai lapisan atmosfer dengan suhu di bawah 0°C. -
Adanya tetes air superdingin
Di dalam awan, terdapat tetesan air yang suhunya sudah di bawah titik beku, namun belum membeku. Tetesan ini disebut supercooled water. -
Pembentukan inti es
Ketika tetesan superdingin bertemu partikel debu atau kristal es, air tersebut membeku dan membentuk inti hujan es. -
Pertumbuhan berlapis akibat arus naik
Inti es ini terbawa arus udara naik (updraft) yang sangat kuat, sehingga naik-turun di dalam awan dan terus bertambah lapisan es. -
Jatuh ke permukaan bumi
Saat ukuran dan berat es sudah lebih besar dari kekuatan arus naik, butiran es jatuh ke permukaan sebagai hujan es.
Mengapa Hujan Es Bisa Terjadi di Indonesia?
Walaupun Indonesia beriklim tropis, ada beberapa kondisi atmosfer yang mendukung terjadinya hujan es:
-
Labilitas atmosfer yang tinggi (CAPE besar)
-
Arus naik kuat akibat konveksi intens
-
Lapisan udara dingin di atmosfer atas
-
Ketinggian lapisan beku (freezing level) yang relatif lebih rendah
Kondisi ini sering terjadi pada masa peralihan musim (pancaroba), terutama pada sore hingga malam hari.
Ciri Khas Hujan Es di Indonesia
Hujan es di wilayah tropis memiliki karakteristik yang berbeda dengan di lintang menengah:
-
Terjadi dalam waktu singkat (5–15 menit)
-
Ukuran es umumnya kecil hingga sedang
-
Hampir selalu disertai:
-
Hujan lebat
-
Angin kencang
-
Petir
-
-
Didahului oleh:
-
Langit gelap
-
Angin mendadak kencang
-
Suhu udara terasa lebih dingin
-
Dampak Hujan Es
Walaupun singkat, hujan es dapat menimbulkan dampak, seperti:
-
Kerusakan atap rumah
-
Kerusakan tanaman pertanian
-
Gangguan aktivitas masyarakat
-
Risiko keselamatan bagi aktivitas luar ruang
Penutup
Kejadian hujan es di Indonesia merupakan fenomena alam yang wajar dalam sistem cuaca tropis, terutama saat kondisi atmosfer sangat labil. Pemahaman yang baik mengenai mekanismenya penting agar masyarakat tidak salah menafsirkan fenomena ini sebagai kejadian ekstrem yang tidak dapat dijelaskan secara ilmiah.
Dengan literasi cuaca yang baik, masyarakat dapat lebih waspada, siap, dan tenang dalam menghadapi berbagai fenomena cuaca ekstrem di Indonesia.
Daftar Pustaka
-
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). (2018). Mengenal Awan Cumulonimbus dan Dampaknya. BMKG, Jakarta.
-
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). (2020). Fenomena Hujan Es di Wilayah Indonesia. Artikel Edukasi Cuaca BMKG.
-
National Aeronautics and Space Administration (NASA). (2022). How Does Hail Form? Global Precipitation Measurement (GPM) Mission.
-
National Geographic Society. (2021). Hail. National Geographic Education Resources.
-
Wallace, J. M., & Hobbs, P. V. (2006). Atmospheric Science: An Introductory Survey (2nd ed.). Academic Press.
-
Houze, R. A. (2014). Cloud Dynamics (2nd ed.). Academic Press.
-
Rogers, R. R., & Yau, M. K. (1989). A Short Course in Cloud Physics (3rd ed.). Pergamon Press.