Sumber Ilustrasi : istockphoto/Gypsy Picture Show/Burung Maleo yang terancam punah

Burung Maleo (Macrocephalon maleo) merupakan satwa endemik Sulawesi yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap kondisi lingkungan fisik, khususnya faktor iklim. Di Sulawesi Tengah, Maleo memanfaatkan lokasi peneluran yang mengandalkan panas alami dari radiasi matahari maupun aktivitas panas bumi. Keunikan strategi reproduksi ini menjadikan Maleo sangat sensitif terhadap perubahan curah hujan, suhu udara, serta dinamika atmosfer yang memengaruhi kondisi mikroklimat di habitatnya.

Dalam beberapa dekade terakhir, perubahan iklim telah memicu pergeseran pola iklim regional, termasuk di Sulawesi Tengah. Variabilitas unsur-unsur iklim tersebut berpotensi memengaruhi keberhasilan penetasan telur Maleo dan keberlanjutan populasinya.

Variabilitas Curah Hujan dan Kondisi Habitat Peneluran

Curah hujan merupakan faktor utama yang memengaruhi kelembaban dan stabilitas suhu tanah di lokasi peneluran Maleo. Perubahan pola hujan, seperti pergeseran awal musim hujan, peningkatan intensitas hujan ekstrem, serta periode kering yang lebih panjang, dapat mengubah karakteristik fisik tanah tempat telur dikubur.

Curah hujan yang tinggi dalam waktu singkat dapat meningkatkan kelembaban tanah secara berlebihan dan menurunkan suhu tanah, sehingga mengganggu perkembangan embrio. Sebaliknya, defisit hujan yang berkepanjangan dapat menyebabkan tanah menjadi terlalu kering dan keras, menyulitkan proses penggalian sarang serta meningkatkan risiko kegagalan penetasan. Kondisi ini menunjukkan bahwa stabilitas curah hujan menjadi elemen penting dalam menjaga kesesuaian habitat reproduksi Maleo.

Peningkatan Suhu Udara dan Perubahan Mikroklimat

Selain curah hujan, peningkatan suhu udara yang terjadi secara bertahap sebagai dampak pemanasan global turut memengaruhi kondisi mikroklimat habitat Maleo. Kenaikan suhu udara berkontribusi terhadap peningkatan suhu permukaan dan suhu tanah, yang berperan langsung dalam proses inkubasi alami telur.

Suhu tanah yang terlalu tinggi dapat mempercepat perkembangan embrio secara tidak seimbang dan meningkatkan risiko kematian embrio. Di sisi lain, fluktuasi suhu yang tajam akibat perubahan tutupan awan dan ketidakteraturan radiasi matahari dapat menciptakan kondisi inkubasi yang tidak stabil. Hal ini menunjukkan bahwa Maleo memiliki toleransi terbatas terhadap perubahan suhu, terutama pada fase reproduksi.

Pengaruh Dinamika Atmosfer Regional

Wilayah Sulawesi Tengah berada pada zona iklim tropis yang dipengaruhi oleh dinamika atmosfer yang kompleks, seperti sirkulasi monsun, aktivitas konvektif, serta fenomena intramusiman dan antar-tahunan. Variasi aktivitas konveksi dapat memicu hujan lebat dalam durasi singkat atau sebaliknya memperpanjang periode kering.

Perubahan intensitas dan frekuensi fenomena atmosfer tersebut berpotensi mengganggu keterkaitan alami antara siklus reproduksi Maleo dan kondisi lingkungan yang optimal. Ketidaksesuaian waktu bertelur dengan kondisi suhu dan kelembaban tanah yang ideal dapat menurunkan tingkat keberhasilan penetasan secara keseluruhan.

Implikasi terhadap Konservasi Berbasis Iklim

Perubahan iklim tidak hanya menjadi tantangan global, tetapi juga memberikan tekanan nyata pada spesies endemik dengan kebutuhan habitat yang sangat spesifik seperti burung Maleo. Pemahaman terhadap hubungan antara curah hujan, suhu udara, dan dinamika atmosfer dengan keberhasilan reproduksi Maleo menjadi dasar penting dalam penyusunan strategi konservasi yang adaptif.

Pemantauan unsur iklim secara berkelanjutan, dikombinasikan dengan perlindungan habitat dan keterlibatan masyarakat lokal, dapat membantu meminimalkan risiko kegagalan reproduksi akibat kondisi iklim yang semakin tidak menentu.

Perubahan iklim yang tercermin melalui meningkatnya variabilitas curah hujan, tren kenaikan suhu udara, dan dinamika atmosfer yang semakin kompleks berpotensi mengancam kelestarian burung Maleo di Sulawesi Tengah. Ketergantungan Maleo terhadap kondisi mikroklimat yang stabil menjadikannya sangat rentan terhadap perubahan lingkungan. Oleh karena itu, integrasi pemahaman iklim dalam upaya konservasi menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan spesies endemik ini di tengah tantangan perubahan iklim yang terus berlangsung.

Daftar Pustaka

Arndt, T., & Widodo, W. (2017). Breeding ecology and conservation of the Maleo (Macrocephalon maleo) in Sulawesi. Bird Conservation International, 27(2), 195–207.

IPCC. (2021). Climate Change 2021: The Physical Science Basis. Contribution of Working Group I to the Sixth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Cambridge University Press.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2018). Rencana Aksi Konservasi Burung Maleo (Macrocephalon maleo). Jakarta.

Mardiastuti, A., & Sastranegara, H. (2014). Karakteristik habitat dan lokasi peneluran burung Maleo di Sulawesi. Jurnal Biologi Indonesia, 10(1), 85–96.

Meehl, G. A., et al. (2007). Global climate projections. In Climate Change 2007: The Physical Science Basis. Cambridge University Press.

Partasasmita, R., et al. (2016). Environmental factors affecting egg incubation of Maleo (Macrocephalon maleo) in natural nesting grounds. Asian Journal of Conservation Biology, 5(2), 112–119.

Setiawan, I., et al. (2020). Variabilitas curah hujan dan kaitannya dengan dinamika atmosfer di wilayah Sulawesi. Jurnal Meteorologi dan Geofisika, 21(3), 145–158.

Winarni, N. L., et al. (2019). Dampak perubahan iklim terhadap keanekaragaman hayati di Indonesia. Jurnal Ilmu Lingkungan, 17(2), 287–296.

Yuliani, E. L., & Salim, M. A. (2013). Perubahan iklim dan implikasinya terhadap ekosistem tropis Indonesia. CIFOR, Bogor.