El Nino Godzilla

Akhir-akhir ini masyarakat sering mendengar istilah El Niño “Godzilla”. Istilah ini memang terdengar menakutkan, seolah-olah ada ancaman iklim raksasa yang sedang mendekat. Istilah “Godzilla” tidak termasuk terminologi ilmiah dalam klimatologi. Secara resmi, El Nino hanya dibagi menjadi tiga kategori: Lemah, Moderat, Dan Kuat. Istilah “Godzilla” muncul setelah BRIN menyebut kemungkinan kombinasi fenomena El Nino Southern Oscillation (ENSO) positif dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh ilmuwan NASA, Bill Patzert, pada 2015. Ia menggunakan kata “Godzilla” untuk menggambarkan kekuatan El Nino yang luar biasa besar, salah satu yang terkuat sejak 1950. Jadi, maksudnya bukan ada jenis El Niño baru, melainkan El Niño yang dikhawatirkan berkembang sangat besar dan membawa dampak luas, terutama kekeringan, berkurangnya air, gangguan pertanian, dan tekanan pada pangan.

Secara sederhana, El Niño terjadi ketika suhu permukaan laut di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik menjadi lebih hangat dari biasanya. Dalam kondisi normal, angin di wilayah khatulistiwa mendorong air laut hangat ke arah barat, termasuk ke Indonesia, sehingga mendukung pembentukan awan dan hujan. Namun saat El Niño terjadi, angin ini melemah, sehingga air hangat bergeser ke tengah dan timur Pasifik. Akibatnya, pusat pembentukan awan dan hujan ikut bergeser menjauh dari Indonesia, sehingga curah hujan di wilayah ini cenderung berkurang.

Dampak El Niño tidak hanya dirasakan satu negara, tetapi dapat memengaruhi pola cuaca global. Ada wilayah yang menjadi lebih kering, sementara daerah lain justru mengalami peningkatan hujan atau cuaca ekstrem. Karena itu, fenomena ini selalu dipantau serius oleh lembaga iklim dunia karena dampaknya bisa meluas ke sektor pertanian, air, lingkungan, kesehatan, hingga ekonomi.

Untuk tahun 2026, El Niño masih dalam tahap potensi, belum pasti terjadi. Outlook NOAA per 12 Maret 2026 menyebutkan bahwa kondisi ENSO-netral kemungkinan bertahan hingga Mei–Juli 2026, dengan peluang El Niño meningkat sekitar 62% pada Juni–Agustus 2026. Artinya, istilah “Godzilla” saat ini lebih tepat dipahami sebagai peringatan dini agar masyarakat bersiap, bukan sebagai kepastian akan terjadinya kejadian ekstrem.

Di Indonesia, dampak utama El Niño biasanya berupa penurunan curah hujan. Hal ini bisa menyebabkan berkurangnya air di waduk dan sungai, sumur mengering, gangguan irigasi, penurunan hasil pertanian, serta meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan. Oleh karena itu, masyarakat dianjurkan mulai menghemat air dan menyiapkan cadangan sejak dini.

Khusus di Sulawesi Tengah, kewaspadaan perlu ditingkatkan. Musim kemarau 2026 diperkirakan mulai bertahap sejak Juni dan meluas pada Juli, dengan kecenderungan datang lebih awal dari biasanya. Sekitar 52% wilayah diprediksi mengalami kondisi lebih kering dari normal, dan hampir 44.8% wilayah berpotensi mengalami durasi kemarau lebih panjang. Puncak kemarau diperkirakan terjadi pada September 2026.

Secara sederhana, kondisi ini berarti masyarakat berpotensi menghadapi kemarau yang lebih cepat, lebih kering, dan lebih lama. Dampaknya akan terasa langsung, seperti berkurangnya air sumur, mengecilnya mata air, tanah retak, tanaman mudah layu, dan meningkatnya biaya pemenuhan air. Petani akan menghadapi tantangan dalam pengairan, sementara pemerintah perlu memastikan ketersediaan air bersih dan mengantisipasi kebakaran lahan.

Meski demikian, pada awal tahun 2026 kondisi laut di sekitar Indonesia, termasuk Sulawesi Tengah, masih relatif hangat dan dapat membantu pembentukan awan. Namun memasuki pertengahan tahun, berbagai faktor seperti berkembangnya El Niño, dominasi angin timuran, aktifnya monsun Australia, dan bergesernya jalur pembentukan awan (ITCZ) ke utara akan mengurangi peluang hujan.

Beberapa wilayah seperti Donggala, Parigi Moutong, dan Sigi sudah menunjukkan tanda kewaspadaan, bahkan BMKG telah mengingatkan potensi kekeringan meteorologis sejak Februari 2026. Ini menunjukkan bahwa ancaman bukan sekadar wacana, tetapi perlu diantisipasi sejak dini.

Karena itu, langkah utama yang diperlukan adalah kesiapsiagaan, bukan kepanikan. Masyarakat dapat mulai dengan menghemat air, memperbaiki kebocoran, menampung air hujan, dan menggunakan air secara bijak. Petani dapat menyesuaikan waktu tanam dan memilih tanaman yang lebih tahan kering. Pemerintah daerah perlu memperkuat distribusi air bersih, pengelolaan tampungan air, serta kesiapsiagaan terhadap kebakaran.

Kesimpulannya, El Niño “Godzilla” adalah istilah populer untuk menggambarkan potensi El Niño yang sangat kuat. Dampaknya bagi Indonesia umumnya berupa berkurangnya hujan dan meningkatnya risiko kekeringan. Bagi Sulawesi Tengah, potensi ini perlu diwaspadai karena adanya indikasi kemarau yang lebih berat. Namun dengan persiapan yang baik, dampaknya dapat diminimalkan melalui langkah-langkah sederhana dan kerja sama semua pihak.