
Pendahuluan
Perubahan iklim merupakan fenomena global yang ditandai dengan perubahan pola dan variabilitas unsur-unsur iklim, seperti curah hujan, suhu udara, dan pola angin dalam jangka panjang. Di Indonesia, fenomena ini semakin nyata melalui pergeseran awal musim, meningkatnya intensitas kejadian cuaca ekstrem, serta bertambahnya frekuensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, kekeringan, dan tanah longsor.
Dalam menghadapi kondisi tersebut, diperlukan upaya adaptasi dan mitigasi yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Perempuan memiliki peran strategis sebagai bagian dari sistem sosial dan ekonomi, baik di tingkat rumah tangga maupun komunitas, dalam mendukung ketahanan terhadap perubahan iklim.
Peran di Tingkat Rumah Tangga
Pada tingkat rumah tangga, perempuan berperan dalam pengelolaan sumber daya dasar, seperti air, pangan, dan energi. Dalam kondisi variabilitas iklim, perempuan melakukan berbagai strategi adaptasi, antara lain pengaturan pola konsumsi keluarga, pemanfaatan lahan pekarangan untuk ketahanan pangan, serta pengelolaan cadangan pangan.
Langkah-langkah tersebut menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas kebutuhan dasar keluarga, khususnya dalam menghadapi ketidakpastian kondisi iklim.
Peran di Tingkat Komunitas
Di tingkat komunitas, perempuan berkontribusi aktif dalam berbagai kegiatan pengelolaan lingkungan, seperti pengelolaan sampah berbasis masyarakat, konservasi sumber daya air, serta rehabilitasi ekosistem. Kegiatan ini berperan dalam mengurangi risiko bencana hidrometeorologi sekaligus memperkuat ketahanan lingkungan.
Selain itu, perempuan juga berfungsi sebagai agen diseminasi informasi, khususnya dalam menyampaikan pengetahuan terkait perubahan iklim dan langkah-langkah adaptasi kepada masyarakat di sekitarnya.
Peran dalam Penguatan Ekonomi
Perempuan turut berperan dalam memperkuat ketahanan ekonomi keluarga melalui pengembangan usaha mikro berbasis ramah lingkungan. Kegiatan tersebut meliputi pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai tambah, pengolahan hasil pertanian lokal, serta penerapan efisiensi sumber daya.
Upaya ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan keluarga, tetapi juga mendukung keberlanjutan lingkungan melalui praktik ekonomi yang lebih adaptif dan berkelanjutan.
Studi Kasus di Sulawesi Tengah
Sebagai contoh, kelompok perempuan di wilayah pesisir Kabupaten Parigi Moutong mengembangkan usaha pengolahan hasil laut berbasis rumah tangga sebagai strategi adaptasi terhadap meningkatnya variabilitas cuaca yang memengaruhi hasil tangkapan nelayan. Kegiatan ini memberikan nilai tambah pada produk perikanan sekaligus mengurangi ketergantungan pada hasil tangkapan harian yang semakin tidak menentu.
Temuan ini sejalan dengan penelitian Fitriana et al. (2020) yang menunjukkan bahwa perempuan memiliki kontribusi signifikan dalam menopang ekonomi rumah tangga melalui usaha mikro, terutama dalam situasi krisis dan pascabencana.
Di sektor pertanian, perempuan di Kabupaten Sigi juga berperan aktif dalam pengelolaan kebun pangan keluarga dengan memanfaatkan tanaman yang lebih adaptif terhadap kondisi kekeringan. Keterlibatan ini sejalan dengan hasil penelitian Hidayat et al. (2024) yang menekankan pentingnya peran perempuan dalam program adaptasi perubahan iklim berbasis masyarakat, khususnya dalam penguatan ketahanan pangan dan ekonomi lokal.
Upaya Pemberdayaan
Untuk mengoptimalkan peran perempuan, diperlukan berbagai upaya pemberdayaan, antara lain peningkatan literasi iklim, pelatihan adaptasi dan mitigasi berbasis masyarakat, serta penyediaan informasi iklim yang mudah dipahami.
Dalam hal ini, peran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika sangat penting dalam menyediakan informasi cuaca dan iklim yang akurat, tepat waktu, dan mudah diakses guna mendukung pengambilan keputusan di tingkat masyarakat.
Penutup
Perempuan memiliki peran strategis dalam meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim di berbagai aspek kehidupan, mulai dari rumah tangga, komunitas, hingga penguatan ekonomi keluarga. Kontribusi ini menunjukkan bahwa ketahanan iklim tidak hanya dibangun melalui kebijakan dan teknologi, tetapi juga melalui praktik keseharian masyarakat yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan. Dalam menghadapi dampak perubahan iklim, peran perempuan sangat krusial sebagai penggerak ketahanan sosial yang beraksi langsung di tengah-tengah masyarakat.
Ke depan, penguatan peran perempuan perlu terus didukung melalui kebijakan yang inklusif, peningkatan literasi iklim, serta akses terhadap informasi yang akurat dan mudah dipahami. Dalam hal ini, peran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menjadi sangat penting dalam menyediakan informasi cuaca dan iklim yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Dengan dukungan tersebut, perempuan dapat semakin berdaya dan berkontribusi secara optimal dalam mewujudkan masyarakat yang tangguh, adaptif, dan berkelanjutan terhadap perubahan iklim.
Referensi
- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. 2023. Informasi Perubahan Iklim Indonesia.
- Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. 2020. Strategi Nasional Pengendalian Perubahan Iklim.
- Fitriana, F., dkk. (2020). Peran Perempuan dalam Pemulihan Ekonomi Usaha Mikro dan Kecil Pasca Bencana Alam Sulawesi Tengah. Jurnal Sosial Humaniora.
- Hidayat, R., dkk. (2024). Perempuan dalam Program Perubahan Iklim di Desa Oo, Kabupaten Sigi (Sulawesi Tengah).