
Palu, 11 Desember 2025 — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri berpartisipasi dalam kegiatan diskusi publik bertajuk “Deforestasi, Bencana Ekologi, Mitigasi, Sulawesi Tengah” yang diselenggarakan oleh Nemu Buku di Tanjung Tururuka 27, Palu, Kamis malam (11/12).
Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah pemantik dari berbagai latar belakang, termasuk Kepala Stasiun SPAG Lore Lindu Bariri BMKG, Asep Firman Ilahi, bersama perwakilan Yayasan Kompas Peduli Hutan (KOMIU) dan Forum Pengurangan Risiko Bencana Sulawesi Tengah. Diskusi ini juga dirangkaikan dengan inisiasi konsolidasi donasi untuk merespons bencana hidrometeorologi yang terjadi di wilayah Sumatra.
Dalam paparannya, Asep Firman Ilahi menekankan bahwa peningkatan kejadian bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang dan longsor tidak dapat dilepaskan dari perubahan tata guna lahan dan kondisi atmosfer yang terus berubah.
“Data pemantauan atmosfer yang kami lakukan di Lore Lindu menunjukkan adanya dinamika iklim dan atmosfer yang semakin kompleks. Curah hujan ekstrem kini lebih sering terjadi dan tidak lagi mengikuti pola yang sama seperti sebelumnya. Ketika kondisi ini bertemu dengan deforestasi dan degradasi lingkungan, maka risiko bencana meningkat secara signifikan,” ujar Asep.

Ia menjelaskan bahwa Sulawesi Tengah, sebagai provinsi terluas di Pulau Sulawesi, memiliki kerentanan tinggi terhadap bencana ekologi apabila pengelolaan hutan dan wilayah hulu tidak dilakukan secara berkelanjutan. Menurutnya, kejadian bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat harus menjadi peringatan serius bagi daerah lain dengan karakteristik lingkungan serupa.
“Bencana yang terjadi di Sumatra merupakan alarm bagi kita semua. Mitigasi tidak bisa hanya dilakukan saat bencana terjadi, tetapi harus dimulai dari pemahaman ilmiah, perencanaan tata ruang yang baik, serta kolaborasi lintas sektor,” tambahnya.
BMKG berkomitmen untuk terus menyediakan informasi dan analisis berbasis data meteorologi, klimatologi, dan kualitas udara sebagai bagian dari upaya pengurangan risiko bencana. Informasi tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan oleh pemerintah daerah, komunitas, dan masyarakat luas dalam pengambilan keputusan.
Kegiatan diskusi ini mendapat antusiasme dari peserta yang hadir dan menjadi ruang berbagi pengetahuan antara ilmuwan, aktivis lingkungan, serta masyarakat. Selain memperkuat literasi kebencanaan, forum ini juga mendorong solidaritas kemanusiaan melalui penggalangan donasi bagi masyarakat terdampak bencana di Sumatra.
BMKG SPAG Lore Lindu Bariri menilai kegiatan semacam ini penting untuk menjembatani sains dan kesadaran publik, sekaligus memperkuat upaya mitigasi bencana berbasis data dan kolaborasi.