mPae

Sumber gambar: Ilustrasi AI

Masyarakat Indonesia memiliki beragam pengetahuan lokal yang diwariskan turun-temurun sebagai cara hidup berdampingan dengan alam. Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim, kearifan lokal tersebut menjadi semakin relevan sebagai bagian dari upaya adaptasi dan penguatan ketahanan masyarakat.

Salah satu nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat Pamona di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, adalah kisah Tanoana mPae atau “sukma padi”. Kisah ini mengandung pesan penting tentang penghormatan terhadap alam, pangan, dan keberlanjutan kehidupan.

Dalam tradisi masyarakat Pamona, padi tidak dipandang sekadar hasil pertanian, tetapi memiliki nilai kehidupan yang harus dijaga dan dihormati. Tanoana mPae menggambarkan hubungan spiritual dan emosional antara manusia dengan alam sebagai sumber kehidupan.

Nilai tersebut tercermin dalam cara masyarakat mengelola lahan, menjaga keseimbangan lingkungan, hingga mensyukuri hasil panen melalui berbagai tradisi adat. Nilai hidup yang selaras dengan alam tersebut kini menjadi semakin relevan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.

Perubahan Iklim dan Tantangan Lingkungan

Perubahan iklim saat ini ditandai dengan meningkatnya suhu udara global, perubahan pola musim, serta meningkatnya kejadian cuaca ekstrem seperti hujan lebat, banjir, dan kekeringan.

Kondisi tersebut juga dirasakan di berbagai wilayah Indonesia, termasuk sektor pertanian yang sangat bergantung pada kestabilan musim. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa perubahan iklim berdampak pada berbagai sektor, termasuk pertanian, sumber daya air, dan ketahanan pangan. Kondisi ini juga menyebabkan musim menjadi semakin sulit diprediksi di sejumlah wilayah Indonesia.

Nilai-nilai dalam Tanoana mPae sejalan dengan upaya adaptasi perubahan iklim, terutama dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan lingkungan. Penghormatan terhadap tanah, air, dan pangan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem.

Alam sebagai Mitra Kehidupan

Kisah Tanoana mPae  mengajarkan bahwa manusia bukan penguasa alam, melainkan bagian dari alam itu sendiri. Karena itu, pemanfaatan sumber daya harus dilakukan secara bijaksana dan tidak berlebihan.

Pandangan ini memiliki relevansi kuat dengan tantangan lingkungan saat ini. Kerusakan hutan dan perubahan tata guna lahan dapat meningkatkan risiko bencana seperti banjir dan longsor. Kearifan lokal menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan bukan hanya untuk kepentingan hari ini, tetapi juga demi keberlanjutan generasi mendatang.

Padungku: Wujud Syukur dan Solidaritas Sosial

Nilai Tanoana mPae juga tercermin dalam tradisi Padungku, yaitu perayaan syukur panen masyarakat Pamona di Kabupaten Poso. Tradisi ini menjadi simbol rasa syukur atas hasil panen sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga. Dalam pelaksanaannya, masyarakat berkumpul, berbagi hasil bumi, serta menjaga semangat gotong royong atau mosintuwu.

Nilai kebersamaan tersebut penting dalam konteks perubahan iklim. Ketahanan menghadapi bencana dan cuaca ekstrem tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur dan teknologi, tetapi juga solidaritas sosial dan kemampuan masyarakat untuk saling mendukung.

Kearifan Lokal sebagai Bagian Ketahanan Iklim

Di tengah modernisasi dan tekanan terhadap lingkungan, kearifan lokal seperti Tanoana mPae menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran ekologis masyarakat. Cerita rakyat dan tradisi adat mengandung pengetahuan lingkungan yang lahir dari pengalaman panjang masyarakat dalam membaca alam, mengelola sumber daya, serta menjaga keseimbangan kehidupan.

Melalui kisah ini, masyarakat diajak memahami bahwa keberlanjutan hidup bergantung pada kemampuan menjaga harmoni dengan lingkungan. Di tengah tantangan perubahan iklim global, kisah Tanoana mPae menjadi pengingat bahwa menjaga alam bukan sekadar warisan budaya, melainkan bagian penting dalam menjaga masa depan kehidupan.

 

Referensi

  1. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Fakta Perubahan Iklim. 
  2. Mosintuwu Institute. Kearifan Lokal, Jalan Menghadapi Krisis Iklim. 
  3. Lapasila, N., dkk. Etnografi Komunikasi Pergeseran Makna Pesan Tradisi Padungku Pasca Konflik Poso di Sulawesi Tengah
  4. Andi Ika Mutmainnah, dkk. Nilai Budaya Dalam Nyanyian Ucapan Syukur Pada Tradisi Padungku di Poso Sulawesi Tengah.
  5. Vinca Evalda Banatau, dkk. Tradisi Bersyukur Padungku Sebagai Kearifan Daerah Masyarakat Etnik Pamona Poso.