
Foto: Karhutla di Gunung Kalendeng Tojo Una-una
Kasus: Kebakaran Gunung Kalendeng, Tojo Una-Una
Pada Senin, 17 Agustus 2026 sekitar pukul 17.00 WITA, kebakaran hutan dan lahan terjadi di kawasan Gunung Kalendeng, Dusun Pakanangi, Desa Balingara, Kecamatan Ampana Tete, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah. Menurut Kepala Pelaksana BPBD Sulteng, Asbudianto, api pada mulanya berasal dari puntung rokok yang dibuang di lahan warga, lalu merembet ke kawasan hutan setelah tertiup angin kencang. Total luas lahan dan hutan yang terdampak diperkirakan mencapai 20 hektare.
Tim gabungan berhasil memadamkan api pada keesokan harinya, Selasa 18 Agustus 2026, tanpa menimbulkan korban jiwa maupun memaksa warga mengungsi. Meski begitu, pemantauan tetap dilakukan untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api di lokasi yang sama.
Kasus ini menarik untuk ditelaah lebih jauh, bukan karena besarnya area yang terbakar, melainkan karena betapa mudahnya sumber api sekecil puntung rokok bisa memicu kebakaran seluas itu. Untuk memahami alasannya, perlu dilihat kondisi cuaca dan iklim yang melatarbelakangi kejadian ini.
Mengapa Kebakaran Ini Bisa Terjadi?
- Kondisi Iklim Global: El Niño Sangat Kuat
Kebakaran di Gunung Kalendeng terjadi di tengah fenomena El Niño 2026 yang tercatat berada pada intensitas sangat kuat. Berdasarkan factsheet BMKG, anomali suhu muka laut di kawasan Nino3.4 tercatat sebesar +2,77 pada dasarian pertama Agustus 2026, naik dari +2,19 pada Juli. Indeks Dipol Samudra Hindia (IOD) turut tercatat positif dan menguat, dari +0,242 pada Juli menjadi +0,457 pada awal Agustus. Kombinasi El Niño dan IOD positif ini menggeser pusat pembentukan awan hujan menjauh dari Indonesia, sehingga pasokan uap air ke wilayah Nusantara berkurang drastis dan kondisi menjadi lebih kering dari biasanya.
- Curah Hujan di Sulawesi Tengah Berada pada Kategori Rendah
Peta prakiraan curah hujan BMKG untuk Provinsi Sulawesi Tengah periode Agustus 2026 (diperbarui 1 Agustus 2026) menunjukkan bahwa Kabupaten Tojo Una-Una, lokasi kejadian kebakaran, berada pada zona curah hujan 0 sampai 50 milimeter selama sebulan, yang masuk kategori rendah. Peta prakiraan sifat hujan pada periode yang sama juga menegaskan bahwa curah hujan di wilayah ini berada pada kategori bawah normal (0 sampai 30 persen dari rata rata klimatologisnya). Dengan kata lain, vegetasi di kawasan Gunung Kalendeng memang sudah dalam kondisi kering menjelang pertengahan Agustus, sehingga percikan kecil dari puntung rokok cukup untuk memicu kebakaran yang meluas dengan cepat begitu tertiup angin kencang.
- Titik Panas di Sekitar Lokasi Kejadian
Pantauan titik api yang difokuskan pada wilayah Sulawesi Tengah memperlihatkan sejumlah titik yang sudah dipastikan besar kemungkinannya sebagai kebakaran nyata (ditandai warna merah pada peta satelit) justru terkonsentrasi di sekitar Kabupaten Tojo Una-Una dan area pegunungan di sekitarnya, berdekatan dengan lokasi Gunung Kalendeng. Ini menunjukkan bahwa kebakaran yang dipicu puntung rokok bukan kejadian terisolasi, melainkan bagian dari pola kekeringan yang lebih luas di kawasan tersebut selama pertengahan Agustus 2026.
- Konteks Nasional: Sebaran Titik Api di Seluruh Indonesia
Peta sebaran titik api nasional pada 17 dan 18 Agustus 2026, tepat di sekitar waktu kejadian Gunung Kalendeng, memperlihatkan bahwa titik api memang tersebar luas di berbagai pulau, dengan konsentrasi terbanyak di Sumatera dan Kalimantan, namun juga merambah ke Sulawesi, Papua, hingga wilayah Indonesia bagian timur lainnya. Sejalan dengan itu, factsheet BMKG mencatat total sekitar 725 titik api yang terpantau paling meyakinkan sebagai kebakaran nyata di seluruh Indonesia pada 18 Agustus 2026, dengan rincian 605 titik di Kalimantan, 87 titik di Papua, dan 33 titik di Sumatera. Artinya, kebakaran di Sulawesi Tengah terjadi bersamaan dengan lonjakan titik api di berbagai wilayah lain di Indonesia, yang sama sama dipicu oleh kekeringan akibat El Niño.
Data tren tiga tahun terakhir dari satelit NASA TERRA/AQUA juga memperkuat gambaran ini. Jumlah titik api nasional pada Agustus 2026 melonjak hingga mendekati 3.000 titik, jauh melampaui Agustus 2024 dan Agustus 2025 yang masing masing hanya berada di kisaran 500 hingga 900 titik. Lonjakan setajam ini konsisten dengan status El Niño 2026 yang berada pada kategori sangat kuat.
Akibat: Dampak terhadap Kualitas Udara
Rangkaian sebab di atas, mulai dari El Niño yang sangat kuat, curah hujan yang jauh di bawah normal, hingga menjamurnya titik api di berbagai wilayah, pada akhirnya bermuara pada satu akibat yang dirasakan langsung oleh masyarakat, yaitu penurunan kualitas udara. Beberapa bentuk dampaknya sebagai berikut.
-
Kabut asap (haze) yang membatasi jarak pandang di sekitar wilayah kebakaran maupun daerah yang dilalui sebaran asap, kadang hingga mengganggu jadwal penerbangan.
-
Peningkatan konsentrasi PM2.5, partikel halus yang mampu menembus saluran pernapasan hingga aliran darah.
-
Langit tampak keruh atau kecoklatan, terutama di pagi dan sore hari saat efek inversi atmosfer menguat.
-
Bau asap yang tercium di pemukiman dekat titik kebakaran, seperti yang berpotensi dialami warga di sekitar Gunung Kalendeng.
-
Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang berpotensi naik ke kategori tidak sehat hingga berbahaya pada aplikasi pemantau kualitas udara di wilayah terdampak.
Dalam skala yang lebih luas, factsheet BMKG mencatat asap kebakaran lahan telah terdeteksi menyebar di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Maluku, dan Papua Selatan, dengan arah sebaran umumnya menuju barat laut hingga utara mengikuti pola angin tenggara. Sejumlah lembaga regional bahkan menetapkan Agustus hingga September 2026 sebagai periode puncak risiko kabut asap lintas batas di Asia Tenggara, dengan Indonesia masuk kelompok negara berisiko tertinggi bersama Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.
Dampak terhadap Kesehatan
Otoritas meteorologi dan kesehatan telah berulang kali mengingatkan bahwa penurunan kualitas udara akibat El Niño berkontribusi pada meningkatnya kasus berikut.
-
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama pada anak anak, lansia, dan penderita gangguan paru paru.
-
Iritasi mata dan tenggorokan akibat paparan asap.
-
Heatstroke dan dehidrasi, karena El Niño juga membawa gelombang panas yang memperparah tekanan pada tubuh.
-
Perburukan penyakit kardiovaskular, mengingat partikel PM2.5 dapat memasuki aliran darah dan memicu peradangan sistemik.
Langkah Antisipasi yang Bisa Dilakukan
-
Pantau indeks kualitas udara secara rutin melalui aplikasi resmi sebelum beraktivitas di luar ruangan.
-
Gunakan masker berkualitas (seperti N95) saat berada di zona berisiko tinggi kebakaran atau kabut asap.
-
Batasi aktivitas luar ruangan, terutama olahraga berat, saat kualitas udara berada di kategori tidak sehat.
-
Jaga hidrasi tubuh untuk mengimbangi suhu panas ekstrem yang menyertai El Niño.
-
Perhatikan keluhan pernapasan pada anak anak dan lansia, dan segera periksakan ke fasilitas kesehatan bila muncul tanda gangguan.
-
Hindari membuang puntung rokok atau sumber api lain sembarangan di lahan atau area vegetasi kering, seperti yang menjadi pemicu kebakaran di Gunung Kalendeng.
-
Dukung pengendalian titik api dengan tidak membuka lahan menggunakan metode bakar, sekaligus melaporkan jika melihat asap atau kebakaran di sekitar wilayah tempat tinggal.
Kesimpulan
Kebakaran 20 hektar di Gunung Kalendeng, Tojo Una-Una, memperlihatkan bagaimana rantai sebab akibat El Niño bekerja secara nyata di lapangan. El Niño yang sangat kuat menggeser pola hujan dan membuat curah hujan di Sulawesi Tengah jatuh jauh di bawah normal, sehingga vegetasi mengering dan rentan terbakar. Sumber api sekecil puntung rokok pun cukup untuk memicu kebakaran yang meluas dengan cepat. Kejadian ini bukan kasus tunggal, melainkan bagian dari pola nasional yang sama, yang pada akhirnya menurunkan kualitas udara di berbagai wilayah Indonesia melalui kabut asap dan peningkatan polutan PM2.5. Kewaspadaan dini, baik dari pemerintah maupun individu, menjadi kunci untuk meminimalkan dampak kesehatan dan lingkungan dari fenomena iklim ini.
Daftar Pustaka
Kompas.com. (2026, 26 Juni). Super El Nino Picu Risiko Kabut Asap Parah di Asia Tenggara, Indonesia Masuk Zona Bahaya. Diakses dari https://www.kompas.com/tren/read/2026/06/26/100000065/super-el-nino-picu-risiko-kabut-asap-parah-di-asia-tenggara-indonesia-masuk
IDN Times. (2026, 9 Mei). Dampak Super El Nino 2026 bagi Wisatawan Asia Tenggara. Diakses dari https://www.idntimes.com/travel/destination/super-el-nino-2026-apa-dampaknya-bagi-wisatawan-asia-tenggara-c1c2-01-jct2y-kqtp0j
detikHealth. (2026, 26 Juni). Super El Nino Picu Ancaman Kabut Asap Asia Tenggara Menguat, RI Masuk Daftar Waspada. Diakses dari https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8548596/super-el-nino-picu-ancaman-kabut-asap-asia-tenggara-menguat-ri-masuk-daftar-waspada
RRI.co.id. (2026, 5 Agustus). El Nino Menguat, Asia Tenggara Waspada Panas dan Kabut Asap. Diakses dari https://rri.co.id/internasional/2628437/el-nino-menguat-asia-tenggara-waspada-panas-dan-kabut-asap
Tripzilla Indonesia. (2026, 25 April). Super El Nino 2026, Tips Menghadapi Ancaman Neraka Bocor. Diakses dari https://www.tripzilla.id/super-el-nino-2026/26913
Tirto.id. El Nino Meramu Kemarau, Kekeringan, dan Polusi Udara Jadi Satu. Diakses dari https://tirto.id/el-nino-meramu-kemarau-kekeringan-dan-polusi-udara-jadi-satu-hAoa
NU Online Jatim. (2026, 1 Juli). BMKG: Fenomena El Nino 2026 Tingkatkan Risiko Penyakit Pernapasan. Diakses dari https://jatim.nu.or.id/nuonline/bmkg-fenomena-el-nino-2026-tingkatkan-risiko-penyakit-pernapasan-rwiLe
Resensi Kaltim. (2026, 30 Juni). BMKG Peringatkan El Nino 2026 Tingkatkan Risiko ISPA dan Penurunan Kualitas Udara. Diakses dari https://www.resensikaltim.com/bmkg-peringatkan-el-nino-2026-tingkatkan-risiko-ispa-dan-penurunan-kualitas-udara/
Sekolapedia. (2026, 13 April). El Nino & La Nina 2026: Prediksi, Dampak, dan Langkah Antisipasi Nasional. Diakses dari https://daftarsekolah.spmb.teknokrat.ac.id/news/el-nino-la-nina-2026-prediksi-dampak-dan-langkah-antisipasi-nasional/
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). (2026, 19 Agustus). Factsheet Monitoring dan Potensi Kebakaran Hutan dan Lahan, berlaku tanggal 19 sampai 25 Agustus 2026.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). (2026, 1 Agustus). Peta Prakiraan Curah Hujan dan Peta Prakiraan Sifat Hujan Agustus 2026, Provinsi Sulawesi Tengah.
Sistem Informasi Kebakaran Hutan dan Lahan. Peta Sebaran Titik Panas Wilayah Sulawesi Tengah dan Peta Sebaran Titik Panas Nasional, 17 dan 18 Agustus 2026.
Sistem Informasi Kebakaran Hutan dan Lahan. Grafik Data Hotspot dari Satelit NASA TERRA/AQUA (Tingkat Kepercayaan: High) Tahun 2026.
Musabar, R. (2026, 18 Agustus). Kebakaran 20 Hektare Lahan di Gunung Kalendeng Touna Dipicu Puntung Rokok. detikSulsel. Diakses dari https://www.detik.com/sulsel/berita/d-8624365/kebakaran-20-hektare-lahan-di-gunung-kalendeng-touna-dipicu-puntung-rokok